Jumat, 20 September 2013

Ciremai (3078mdpl) ~ catatan (sepanjang) perjalanan~

~Dialah yang menjadikan bumi ini untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya...... ~ (QS:67:15)

Dari sinilah saya memulai penjelajahan, berjalan menuju ketinggian, melihat dunia dari dimensi yang lebih tinggi.

Ciremai, mendengar nama itu selalu saja membuat saya berandai mendapat kesempatan liburan panjang, dan menapakan kaki di tanah tertinggi Jawa Barat itu, dan atas takdir Allah, Alhamdulillah, kesempatan itu datang tahun ini, dengan segala kemudahan yang menyertainya :D

Gunung ciremai, termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, yang memiliki luas sekitar 15.000 ha, gunung dengan ketinggian 3.078Mdpl ini merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat, lokasinya terbagi kedalam dua wilayah Kabupaten, sebelah Barat termasuk Kab. Majalengka, dan Sebelah timur termasuk Kab. Kuningan.(berbagai sumber)

Dingin mulai menyapa kami saat memasuki kota Kuningan, tepatnya daerah mana, saya juga kurang hafal, ini kali pertama saya berkunjung kesini, setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, berangkat dari Sukabumi, kemudian janji temu dengan 4 sahabat perjalanan saya yang lain di terminal cicaheum-Bandung, lalu bersama-sama meluncur ke kota ini, kota yang menjanjikan pengalaman baru bagi kami. Sekitar pukul 20.00 kami sampai di mesjid Syiarul Islam, mesjid yang megah berdiri kokoh di pusat kota, beberapa sahabat nampak sudah menunggu lama disana.

Pagi datang diiringi dengan kegembiraan, kami akan berpetualang hari ini, setelah menghabiskan sisa malam untuk memaksimalkan persiapan.
angdes yang akan mengantar kami ke resort


Semua telah siap, angdes pun meluncur mengantarkan kami menuju resort cigugur, kami melakukan registrasi terlebih dahulu sebelum start pendakian, tidak terlalu ribet, hanya menyerahkan fc ktp, itu pun cukup di wakili saja oleh pj rombongan, dan bayar biaya retribusi Rp 10.000/ orang

Setelah semua proses registrasi selesai, teriring do'a dengan pasti kami mengambil langkah pertama, memasuki perkampungan penduduk, dingin mulai menghinggapi tubuh saya, pemandangan ini yang selalu membuat saya berpikir "klo aku tinggal disini, kayaknya bakal telat kesekolah tiap hari, karena males mandi pagi" #eh #abaikan. Dan mengulang kejadian di beberapa perjalanan akhir-akhir ini, saya collapse di beberapa langkah pertama sebelum sampai di pos kaki pegunungan, yang harus mengorbankan langkah beberapa sahabat demi menemani saya sampai benar-benar pulih. Melalui jalanan yang becek dan langkah yang sedikit terpapah akhirnya saya sampai juga di shelter sebelum benar-benar memasuki jalur pendakian, menyempatkan sarapan bersama, menu sarapan yang baru buat saya, nasi lengko, khas kuningan, nasi lengko itu, nasi yang diguyur bumbu kacang, ya, semacam ketupat tahu kali ya, cuma ketupatnya di ganti nasi. hehe satu kelebihan nasi lengko yang jadi kekurangan menurutku, kelebihan porsi, bikin saya bega dan penuh perjuangan menghabiskannya #abaikan
sarapan dulu ^_^
Selesai sarapan, setelah berpikir untuk tidak melanjutkan perjalanan, khawatir merepotkan sahabat saya yang lain karena kejadian collapse tadi, rupanya Allah masih mengizinkan saya untuk tetap melanjutkan perjalanan, kondisi saya berangsur membaik, dengan semangat yang kembali utuh, langkah kami mantap memasuki jalur pendakian menuju pos 1, Cigowong.

Setelah menempuh perjalanan dengan melewati perkebunan sayur milik penduduk -suasana ini mirip dengan jalur menuju gn.Gede via putri-, masuklah kami ke kawasan hutan, dan tak lama di sambut oleh savana ilalang yang cukup tinggi, melebihi pendek badan saya, juga kanopi dedaunan, sepanjang perjalanan diisi dengan senda gurau, upaya mengusir lelah.

Perjalanan menuju pos 1 Cigowong ini relatif jauh, jika di bandingkan dengan jarak antar pos di kebanyakan gunung, atau mungkin hanya perasaan saya saja, dan sepanjang perjalanan ini juga beberapa kali kami istirahat, dengan dalih menunggu beberapa sahabat yang lain di belakang, sekadar meluruskan kaki juga mencuri kesempatan untuk bernafas lebih lega, dan tentu saja ajang bernarsis ria ^_^
ngaso di perjalanan menuju pos 1
Jalur menuju pos 1, bisa dikatakan masih landai, ya, jika menerka kejutan apa yang akan di berikan oleh ciremai dalam perjalanan ini, setelah sekitar 2 jam berjalan, akhirnya kami tiba di pos 1 Cigowong, pos yang berlokasi di ketinggian 1450mdpl atau sekitar 5,6 KM lagi menuju puncak, cukup lama kami menghabiskan waktu di pos ini, bertemu dengan beberapa pendaki lain yang juga sedang beristirahat, sempat memasak, juga mengambil persediaan air secukup mungkin, karena pos 1 ini merupakan tempat terakhir dimana kami bisa menemukan sumber air yang cukup melimpah.

srikandi lagi pada bahagia beristirahat ^_^
Setelah merasa mendapat istirahat yang cukup, perjalanan kami lanjutkan ke pos berikutnya, pos kute, jaraknya tidak terlalu jauh dari pos 1, bahkan hampir tidak kami kenali sebagai pos, pos kute kami abaikan, kami tetap melangkah menuju pos berikutnya, angka pada arloji telah menunjukan tibanya waktu dzuhur, setelah menemukan tempat yang cukup lapang, kami menunaikan kewajiban terlebih dahulu sebelum kemudian melanjutkan perjalanan.
menemui-Nya lewat sujud
Mengutip dari yang pernah di katakan sahabat saya, "aku kadang heran", katanya mereka mengaku sebagai pecinta alam tapi lalai terhadap kewajiban yang utama ini, mereka mencintai alam, tapi seolah enggan bertemu atau mendekat pada yang menciptakanya, mereka sanggup taat terhadap aturan yang di buat makhluk, dengan tidak memetik edelweiss, buang sampah sembarangan juga aturan-aturan lain, tapi mereka tak sanggup menjaga shalatnya" duuh semoga hidayah datang kepada mereka lewat apapun yang Allah kehendaki :D

Setelah menunaikan kewajiban sholat dzuhur juga ashar, kami melanjutkan perjalanan dari pos satu ke pos lainnya, istirahat, dan begitu saja mengulang-ngulang, jalan mulai menanjak, nafas saya pun mulai pendek, memasuki pos Paguyangan Badak (1,575mdpl), matahari berada di puncak terik tapi tidak terlalu menyengat berkat kanopi dedaun sepanjang jalur, jalan yang kami tempuh cukup panjang, saya tidak ingat persisnya berapa jam kami telah berjalan, dan sampailah di pos Arban (1,800mdpl) tertera sekitar 4.5Km lagi untuk mencapai puncak, setelah ini sahabat saya menyarankan untuk benar-benar mempersiapkan "dengkul" menghadapi tanjakan tanpa bonus, entah berapa butir permen yang ku bantai, terbaca pada papan kuning yang sengaja di tempel di batang pohon, "Tanjakan Asoy" dari nama posnya saja sudah membuat saya menarik nafas panjang. Ya, begitulah perjalanan, seperti kehidupan, terkadang, yang membuat takut hanyalah yang baru kita perkirakan, tanpa tahu keadaan sebenarnya jika kita mencoba, tapi beruntunglah, di perjalanan ini tidak ada pilihan lain selain melanjutkan. Setelah di tempuh, tak se "sadis" yang di takutkan, terasa biasa saja, tapi ya tetep "ngos-ngosan", pos yang berada di ketinggian 2.200mdpl atau sekitar 2,9km menuju puncak ini, benar-benar menguras segala, air, permen, keringat, de el el laah hehehe (ini pake "isyraf")

Tuntas menyelesaikan perjalanan sepanjang tanjakan asoy, matahari mulai condong ke arah barat, sebagian cahayanya jatuh ke antara dedaunan,hari mulai sore, harapan sampai camp sebelum gelap nampaknya semakin kecil, kami sampai di pos pasanggrahan, disini kelompok kami terpecah, saya, pita, jude, dan raden di temani pak Asep juga mbah Gugun memilih istirahat lebih lama, dingin mulai menyergapi tubuh kami, rupanya ketebalan jaket yang saya pakai tidak terlalu menolong dari cuaca dingin sore itu, bisa juga angin masuk lewat celah dan menetap di ruang kosong dalam jaketku, karena memang ukurannya yang kedodoran . hehe
Dingin mulai membuat nafas yang kami keluarkan sepeti gulungan awan putih, ya, entah berapa suhu udara sore itu, yang saya rasa dingin, pake banget. selama sekitar 1 jam kami sempatkan memasak minuman hangat, yang sekiranya bisa menolong kami dari kedinginan, beberapa dari kami juga mulai kram. kami sangat tahu bahwa kami telah tertinggal sangat jauh dibanding sahabat yang lain, dan dengan berat hati meninggalkan kenyamanan beristirahat, kami melanjutkan perjalanan berikutnya, melewati pos sanghyang ropoh, tapi rupanya kami memang sudah tertinggal sangat jauh, pangkal kami belum juga bertemu dengan ujung dari mereka, sedang hari mulai gelap, penerangan mulai dinyalakan, dengan langkah yang semakin kecil, kami menyusuri jalan setapak, dan sampailah di titik sahabat kami menunggu di pos bayangan, langit sudah gelap, dan dingin semakin sulit diajak berdamai, sendi-sendi terasa kaku, diantara beban yang kami bawa masing-masing, rasanya ingin memejamkan mata dan terbangun dengan posisi sudah di puncak. hadeeuh.

Kami menyisiri jalan sambil memungut ranting-ranting yang bisa dijadikan kayu bakar, jalur semakin terjal, bukan jalan setapak lagi, tapi tebing-tebing. Tujuan awal kami adalah mendirikan camp di goa walet, tapi merasakan kondisi ini, kami sadar harus segera menemukan tempat lapang untuk mendirikan tenda, perjalanan tidak mungkin dipaksakan terus, di tambah lagi satu diantara kami mulai mengeluhkan gejala hypo, saya sendiri cukup menderita dengan dingin malam itu, lalu kami tepecah lagi, saya, bintang, ela, tito, a ade dan a mirza, memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, mencari tempat yang cukup lapang untuk mendirikan 4 tenda, tidak enak juga meninggalkan sahabat yang lain dalam kondisi yang tidak bisa dikatakan "baik-baik saja" tapi inilah yang dipertaruhkan, kami harus memilih bertahan atau melanjutkan, tapi saat itu, bertahan pun bukan pilihan yang baik. Tak lama Tito menemukan tempat yang cukup lapang, sebisanya menampung 2 tenda, nampaknya Tito gak pengen sahabat yang dibelakang berjalan lebih jauh lagi, dan jujur, saya pun rasanya sudah tak akan sanggup jika harus meneruskan perjalanan malam itu juga, dingin membuat seluruh badan saya terasa kaku, kedua telapak tangan saya yang memang "ajaib" pun mulai tersa perih, udara dingin terasa menjalar memasuki lapisan rawan di dalam hidung, memberikan efek sakit setiap kali saya berusaha mengambil nafas. Di tengah kondisi yang darurat seperti itu Allah memang tak pernah kehabisan cara mengobati rasa lelah kami,langit malam itu begitu cerah, di hiasi cemerlangnya taburan ribuan bintang, di tambah posisi saya yang ada di ketinggian, malam penuh cahaya, di langit dan di bumi.

Tenda selesai didirikan, kami bertiga -saya,ela,dan bintang- diminta segera istirahat di tenda sambil menunggu teman-teman yang lain, tak lama yang lain datang, kemudian segera menunaikan kewajiban sholat maghrib dan isya, selesai sholat aktifitas di lanjutkan dengan menyalakan api unggun, dan masak. Sebagian mencari lahan untuk mendirikan tenda (lagi), sedangkan kami para srikandi dipersilakan untuk istirahat, menunggu para lelaki tangguh itu memasak dan menyediakan makanan untuk kami ^_^. dan ya, saking dinginya, tenda dengan kapasitas 3 orang pun menjadi cukup untuk 5 orang, entah tenda nya yang meluas atau apa, tujuannya supaya tidak ada ruang kosong yang di tempati angin. sekitar jam 10, kami di bangunkan untuk makan, setelah makan tidur lagi. hehe

Summit Attack

Jam 2 dini hari, saya benar-benar tidak bisa berdamai dengan dingin, tebalnya sleepingbag dan berlapis-lapis pakaian yang saya pakai tidak cukup menjadi solusi, di luar terdengar pa. Asep dan mbah gugun asik saja mengobrol, menjaga api unggun agar tetap menyala, dari dalam tenda saya mencuri dengar obrolan konyol mereka, nampaknya mereka memang tidak tidur. semakin tidak kuat dengan dingin, saya putuskan untuk keluar tenda, bergabung dengan pa Asep dan mbah Gugun menghangatkan tubuh depan api unggun sambil masak dan ngopi-ngopi, dan berharap punya kesempatan menyaksikan hujan meteor, yang kabarnya akan terjadi tepat dimalam itu, tapi sepertinya belum rejeki saya menyaksikan itu, atau memang beritanya hoax >_<

Summit attack rencananya akan start sekitar jam 3.50, jarum jam tepat menunjukan angka itu, saya membuat keributan kecil untuk membangunkan teman yang lain, namun rupanya dingin sangat memberatkankan mereka untuk keluar tenda, meski pada akhirnya berebut posisi depan api unggun juga, dingin membuat kami sulit bergerak, duuh dari tadi ceritain dingin mulu ya.. hehehe *wooy jiw udah kepanjangan nih.. oke loncat.

Setelah persiapan, dan sarapan (sahur tepatnya) jam 4 kami merangkak menuju puncak, dengan penerangan yang seadanya dari headlamp yang mulai redup kami sampai di goa walet dan menunaikan sholat subuh disana, jalurnya tebing dan bebatuan, mesti ekstra hati-hati, di jalur juga saya menemukan nisan, yang katanya korban meninggal karena terjatuh.. (jadi ngeri), sepanjang jalur tumbuh pohon-pohon edelweiss, sudah mulai mekar, namun karena masih cukup gelap, keindahannya belum bisa benar-benar saya nikmati. Hari mulai terang dari cahaya fajar, puncak sudah mulai terlihat, saya menyebutnya puncak PHP, gimana engga, keliatanya udah deket banget, tapi gak sampe-sampe.. hehehe, saat summit, saya, ela, bintang, a mirza, a Ade dan a agus curi start setelah sholat shubuh, maaf ya kawans ^_^

Setelah berjalan sekurangnya 2 jam dari camp, akhirnya kaki kami berhasil menapak di 3078mdpl Puncaaak.. haru luar biasa, kami sampai tepat matahari muncul, indah luar biasa, dan bahagia se bahagia-bahagianya, sahut2an takbir tak henti keluar dari bibir kami, di puncak sudah terlihat beberapa pendaki lain juga, sambil menunggu yang masih di bawah, agenda wajibnya tetep bernarsis ria. Tak lama sahabat-sahabat sampai juga di puncak, dan berikutnya tetep... foto-foto ;)

Serpihan Perjalanan

mbah gugun ngaso sebelum tempur di tanjakan asoy.
kami ketinggalan huhuhu
pesona dari camp *gagalfocus

siluet di puncak photo :mirza
sunrise ciremai photo: Qefy
AW dan slamet dari ciremai (katanya) photo :ajiw
si kuning nyampe puncak yeaaaay ^_^
siluet photo: qefy
photo:qefy
bayangan ciremai photo: qefy
aktifitas di puncak photo:qefy
foto ter gaje, sibuk dengan aktifitas masing2 :p
Puas (sebenernya sih belom) berekspresi di puncak, dengan segala cerita dan tingkah konyol kami, eh saya,  karena matahari terasa sangat dekat dan cukup terik, juga kewajiban pulang sebagai tujuan utama setiap pendakian buat saya, dengan hati bahagia dan berat juga, kami turun masih lewat jalur yang sama, imbalanya, pesona yang saat naik tidak begitu ternikmati karena hari gelap, terbayar saat turun ^_^

jalur bebatuan, ekstra hati-hati, photo:qefy
tetep... pose ^_^ photo :qefy
kuningan, majalengka, cirebon dsk dari atas, photo:qefy
pita,saya,dan bintang. mengabadikan persahabatan diantara bunga abadi, photo:qefy

goa walet, photo:qefy
edelweiss ciremai, photo: qefy
photo:ajiw
mumpung narsis belom di haramkan ^_^ haha photo : mirza
suasana camp, photo:mirza
masak amunisi turun, photo :qefy
packing-packing T_T ,photo:qefy
packing, matiin api, beresin sampah, photo:qefy
Perjalanan turun relatif lebih cepat, itu tentu,di perjalanan turun saya terpaksa harus maraton, di temani a agus dan tito, mulai dari pos pasanggrahan sampai pos cigowong, kami sampai di pos cigowong sekitar jam 2, disana sudah nampak mang ajat, yang ternyata sudah sampai lebih dulu. Kami memiliki waktu yang lumayan lama untuk istirahat sambil menunggu sahabat yang lain tiba, sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Selisih 1 jam, semua sudah komplit, kami melanjutkan istirahat dan makan #eh.
Sekitar jam 4 kami mantap untuk melanjutkan perjalanan, dan tiba kembali di resort cigugur tepat saat maghrib, Alhamdulillah.

photo: mirza
photo: mirza
photo: mirza
photo: mirza
photo: mirza

photo:mirza
Pulang

Alhadulillah, selesai juga rangkaian perjalanan panjang kami, selama 2 hari 1 malam bersama alam, semoga turun dengan bekal pelajaran dan hikmah yang lebih banyak daripada bekal logistik yang dibawa saat nanjak.
Sejatinya setiap perjalanan, khususnya pendakian ini adalah dalam rangka ta'aruf, saling mengenal, saling bersosialisasi, tak hanya dengan manusia, tapi juga dengan alam dan segala yang ada didalamnya. Juga dalam rangka menumbuhkan rasa muroqobatullah, karena tak sedikit orang yang memanfaatkan kondisi2 yang jauh dari keramaian ini untuk melakukan hal-hal yang melanggar syariat agama, hanya karena "gak akan ada yg tahu". Dan dari jejak-jejak yang kita tinggalkan, semoga bisa menjadi sarana untuk meningkatkan Mahabbah kita kepada sang maha cinta.

"Perjalanan naik gunung bukanlah sekedar gengsi-gengsian, tetapi ini adalah tahap dimana aku belajar bersosialisasi dengan orang-orang yang berbeda, menikmati keindahan mahakarya sebuah penciptaan, dan belajar mengendalikan emosi dan ego diri, dan akhirnya akan terbentuk aku yang baru dari sebuah perjalanan pendewasaan diri" _ladecruzz_

Puncak bukanlah tujuan utama pendakian, puncak hanyalah bonus, karena tujuan utama setiap pendakian adalah kembali kerumah dengan selamat, membawa cerita bahagia pada mereka yang menunggu di pintu rumah ^_^

Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. QS. 13:3
Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS. An-Naba:7)

"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk." (QS Al-Anbiya' : 31
dan akhirnya, perjalanan ini di tutup dengan bahagia ^_^
kika: a Mirza, Raden, a Ade, Tito, a Agus, Pak Asep, Jude, Pita, Ajiw. Bintang, Ela, a Qefy, Mang Ajat, Mbah Gugun
Transportasi

Sukabumi - Bandung (lw.panjang) ==============> Rp. 30.000*
Bandung (lw.panjang) - Cicaheum (Damri) =======> Rp.   4.000*
Cicaheum - Kuningan (Mesjid Syi'arul islam) =====> Rp.  50.000*
carter angdes dari kamukten - Resort Cigugur (pp)> Rp.180.000 


keterangan : * tarif hari raya
                        

9 komentar:

  1. Subhanallah, foto di puncaknya keren :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu baru dari foto ka, aslinya jauuuuuuh lebih keren hehehe

      Hapus
  2. ceremai ceremai,,akhirnyaaa, wah ada yang kurang ini, mana traknya yang menggila, kayaknya indah-indah semua ? temenku lewat linggar jati ceritanya traknya parah

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, track gilanya g sanggup nyeritain, bikin dengkul gemeteran hahaha, iya, subhanallah banget , klo lewat linggarjati belom pede deh kynya :D

      Hapus
  3. Jadi kapan ke Kuningan lagi? Hehehehe.... Eh, ayo ke Gede atau Papandaian aja? Agus ngajakin tuuuh.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. woohoo, jika tertakdir, mendaki ciremai lagi.. heu
      ayoook, mau kapan *ceileeh kyk yg fleksibel aja waktunya hahaha

      Hapus
  4. Jadi kapan ke Kuningan lagi? Hehehehe.... Eh, ayo ke Gede atau Papandaian aja? Agus ngajakin tuuuh.....

    BalasHapus
  5. Jadi kapan ke Kuningan lagi? Hehehehe.... Eh, ayo ke Gede atau Papandaian aja? Agus ngajakin tuuuh.....

    BalasHapus